Detail Masalah

Hasil kajian dan pembahasan.

Hukum Najis Kencing Bayi Laki Laki Yang Ditahnik

Fiqh Thoharoh 20 September 2025 28 Dilihat

Hukum Najis Kencing Bayi Laki Laki Yang Ditahnik

 

A.   Rumusan Masalah

A. Apa itu Tahnik, bagaimana gambarannya?

B. Apakah bayi laki" yg di tahnik ketika baru lahir,air kencingnya menjadi najis mutawasittoh? غيراللبن (bukan susu). Jika tidak apa ilahnya?, Sedangkan kurma yg ditahnik tersebut merupakan kategori, غير اللبن (bukan susu) ?

C. Apakah Mentahnik harus dengan kurma ?

 

B.   Uraian Bahasan

A. Perlu diketahui bahwa najis dari kencing bayi laki laki yang belum mengkonsumsi apa apa  adalah najis mukhoffafah (ringan), cara mensucikannya adalah dengan mencipatkan air ke najis, maka akhirnya timbul pertanyaan seperti diatas.

 

I‘ānah al-ālibīn (juz 1, hlm. 109):

 

وَإِنَّمَا يُخَفَّفُ بَوْلُ الْغُلَامِ مَا لَمْ يَطْعَمْ غَيْرَ اللَّبَنِ، أَيْ لَمْ يَتَّخِذْ غَيْرَهُ قُوتًا، وَإِلَّا فَيَجِبُ غَسْلُهُ

 

 “Yang diringankan (cukup diperciki) hanyalah kencing anak laki-laki selama ia belum makan selain susu, maksudnya selama ia belum menjadikan selain susu sebagai makanan pokok. Kalau sudah, maka wajib dibasuh (seperti najis mutawassiah).”

 

B. Tahnik (تَحْنِيك) adalah mengunyah kurma (atau makanan manis sejenis) lalu mengoleskannya ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir. Dan Ini merupakan sunnah yang diajarkan Rasulullah .

 

C. Cara mentahnik.:

1.Kurma dikunyah oleh orang yang shalih/‘alim (atau dilumatkan sampai halus).

3. Ambil sedikit dari kunyahan itu dengan jari.

4. Oleskan ke langit-langit mulut bayi (atas mulut bagian dalam).

5. Dianjurkan sambil didoakan kebaikan untuk bayi.

 

D. Yang utama (afdhal) dalam tahnik : kurma, karena ada dalil langsung dari Nabi .Jika tidak ada kurma: boleh dengan sesuatu yang manis (ulw) seperti madu, kismis, atau manisan lain, menurut sebagian ulama.

Referensi :

قالت أسماء بنت أبي بكر رضي الله عنهما:حَمَلْتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ، فَوَضَعْتُهُ فِي حِجْرِهِ، ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا، ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ، فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، ثُمَّ حَنَّكَهُ بِالتَّمْرَةِ، وَدَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عليه رواه البخاري (5467) ومسلم (2144).

 

“Beliau (Asmā’) membawa Abdullah bin az-Zubair kepada Nabi setelah dilahirkan. Nabi lalu meminta kurma, kemudian dikunyahnya, lalu beliau mentahnik mulutnya dengannya dan mendoakannya. Maka Abdullah adalah orang pertama yang lahir setelah hijrah.”

(HR. al-Bukhārī, no. 5467; Muslim, no. 2144)

 

 

 

Imam an-Nawawī dalam al-Majmū‘ (9/377):

 

السنة أن يحنك المولود عند ولادته بتمر، فإن لم يوجد تمر فبشيء حلو

 

Artinya: “Sunnah mentahnik bayi ketika lahir dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka dengan sesuatu yang manis.”

 

 

C. Tahnik dengan kurma, meski bukan susu, tidak dianggap sebagai “makanan pokok” atau “غداء yang membuat hukum kencingnya berubah.

Jadi kencingnya tetap dihukumi najis mukhaffafah (cukup diperciki), selama ia belum benar-benar mengonsumsi makanan lain secara rutin

Dan illahnya:

Bukan sekadar “masuk benda selain susu”,

Tapi selama makanan selain susu itu belum menjadi asupan pokok si bayi

Maka tahnik tidak merubah status.

Referensi :

وقوله على جهة التغذي فيدر القيد. فيصدق حينئذ بالذي لم يأكل الطعام أصلاً، وبالذي تناوله لا على جهة التغذي كتحنيكه بتمر ونحوه،

 

Pernyataan beliau " (untuk tujuan gizi) menjadikan larangan tersebut diperbolehkan. Hal ini berlaku bagi orang yang tidak memakan makanan tersebut sama sekali, dan bagi orang yang memakannya bukan untuk tujuan gizi, seperti dengan tahnik dengan kurma atau yang serupa “

 

Nihāyah al-Mutāj (juz 1, hlm. 246):

 

الْمُرَادُ بِالطُّعْمِ مَا اتُّخِذَ قُوتًا دُونَ مَا يُطْعَمُ نَادِرًا لِلتَّبَرُّكِ أَوْ لِلتَّدَاوِي

 

 “Yang dimaksud dengan ‘makan’ adalah sesuatu yang dijadikan sebagai makanan pokok, bukan sesuatu yang dimakan hanya sesekali untuk tabarruk atau untuk berobat.”

 

 

 

 

 

C.   Hasil Keputusan

Tahnik dengan kurma, meski bukan susu, tidak dianggap sebagai “makanan pokok” atau “غداء yang membuat hukum kencingnya berubah.

Jadi kencingnya tetap dihukumi najis mukhaffafah (cukup diperciki), selama ia belum benar-benar mengonsumsi makanan lain secara rutin

 

Filter Pencarian
Beranda Filter Ajukan Donasi