Detail Masalah

Hasil kajian dan pembahasan.

Membayarkan Hutang Puasa Orang Tua Yang Sudah Meninggal

Fiqh Puasa 06 September 2025 22 Dilihat

Membayarkan Hutang Puasa Orang Tua Yang Sudah Meninggal

 

A.   Rumusan Masalah

A. Bagaimana hukumnya Ahlu Waris membayarkan puasa orang tua nya yang sudah meninggal yang memiliki hutang puasa?

 

B.   Uraian Bahasan

A. Penjelasan singkat di Kitab fathul qorib bahwa dibolehkan untuk memuasakan orang yang sudah meninggal

 Referensi :

 

 

يجوز للولى أيضا أن يصوم عنه بل يسن له ذلك كما فى شرح المهذب وصوب في الروضة (فتح القريب المجيب)

Seorang wali dari mayyit juga boleh berpuasa untuknya, bahkan hal itu dianjurkan baginya, sebagaimana disebutkan dalam Syarh Al-Muhazhab dan ditegaskan dalam Al-Raudhah.

 

B. Didalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab juga tertera :

ومن أصحابنا من قال فيه قول آخر أنه يصام عنه، لما روت عائشة رضي الله عنها أن النبي ﷺ قال: من مات وعليه صوم رمضان صام عنه وليه، ولأنها عبادة تجب الكفارة بإفسادها، فجاز أن يقضى عنه بعد الموت كالحج

 

Di antara ulama dari kalangan sahabat kami (ulama Syafi‘iyyah) ada yang berpendapat dengan pendapat lain, yaitu bahwa puasa (yang ditinggalkan mayit) itu boleh dilakukan (digantikan) untuknya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Aisyah ra. bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa meninggal dunia, sedangkan ia masih mempunyai kewajiban puasa Ramadan, maka walinya berpuasa untuknya.”

Selain itu, karena puasa merupakan ibadah yang jika dirusak (dengan sengaja membatalkannya) mewajibkan adanya kafarah, maka boleh pula diganti setelah kematian, sebagaimana ibadah haji.

 

C. Bahkan dalam Hasyiyah Al Baijuri Menyatakan bahwa selain wali dari mayit pun boleh membayarkan puasa, dengan wasiat si mayit atau dapat izin dari wali mayit ataupun permintaannya  :

 

وإنما كان القديم معتمداً هنا لورود الأخبار الصحيحة الدالة على جواز الصوم كخبر الصحيحين: «من مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ»، وخبر مسلم أنه صلى الله عليه و سلم قال لامرأة قالت له: إن أمي ماتت وعليها صوم نذر أفأصوم عنها ؟ : « صومِي عَنْ أُمِّكِ». قوله : (بَلْ يَجُوزُ لِلْوَلِي) بل وللأجنبي بإذن من الميت بأن أوصى به أو بإذن الولي بأجرة أو دونها بخلافه بلا إذن؛ ومذهب الحسن البصري رضي الله عنه أنه لو صام عنه ثلاثون رجلاً يوماً واحداً بالإذن جاز (حاشية الباجوري)

 

Pendapat qaul qadīm (pendapat lama Imam Syafi‘i) yang dijadikan pegangan dalam masalah ini adalah karena adanya hadits-hadits shahih yang menunjukkan bolehnya puasa (dilakukan oleh orang lain untuk mengganti puasa mayit), seperti hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim: “Barangsiapa meninggal dunia dan ia memiliki kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya.” Dan hadits riwayat Muslim: bahwa Nabi pernah ditanya oleh seorang wanita: “Sesungguhnya ibuku meninggal, sedangkan ia masih memiliki kewajiban puasa nadzar, apakah aku boleh berpuasa untuknya?” Beliau menjawab: “Berpuasalah engkau untuk ibumu.”

Adapun pernyataan beliau (al-Bājūrī): “Bahkan boleh bagi wali, bahkan juga boleh bagi orang lain (yang bukan wali) untuk berpuasa menggantikan si mayit, dengan syarat ada izin dari mayit berupa wasiat, atau izin dari wali si mayit, baik dengan imbalan (upah) maupun tanpa imbalan. Berbeda halnya bila tanpa adanya izin, maka tidak sah. Sedangkan menurut pendapat Hasan al-Bashrī ra., apabila ada tiga puluh orang berpuasa satu hari penuh menggantikan si mayit dengan izin (wali), maka hal itu sah

 

 

C.   Hasil Keputusan

Hukum Ahlu Waris membayarkan puasa orang tua nya yang sudah meninggal yang memiliki hutang puasa adalah Boleh, bahkan selain Wali/Ahlu Waris pun diperbolehkan dengan wasiat dari mayit atau izin dari wali.

Filter Pencarian
Beranda Filter Ajukan Donasi